Rabu, 26 Oktober 2016

Perkembangan Studi Hubungan International


Perkembangan Studi Hubungan International
Muhammad Afrizal
Abstract
Makalah ini mendeskripsikan Ilmu Hubungan Internasional sebagai sebuah kajian . Sementara minat untuk belajar bagaimana negara berinteraksi dengan satu lain dan bagaimana kekuasaan mempengaruhi hubungan dapat ditelusuri kembalikarya Kautilya dan Thucydides ratus tahun yang lalu, modernstudi IR masih dianggap sebagai disiplin ilmu baru. Hal ini dapat dilihat dengan Fakta bahwa pembukaan pertama kelas IR didirikan pada tahun 1919 menyusul akhir Perang Dunia I. Makalah ini akan berfokus pada bagaimana hampir satu abad kemudian studi IR telah meningkat secara signifikan dalam hal epistemologi, ontologi, sebagai serta metodologi, karena kompleksitas dari sistem internasional.
Keywords: International Relations, knowledge, epistemology, ontology, methodology.

Pendahuluan
Tulisan ini dibuat untuk memperlihatkan perkembangan Studi Hubungan Internasional (SHI) sejak SHI menjadi kajian akademik formal pada tahun 1919 di Universitas Wales di Aberystwyth Inggris (sekarang menjadi Universitas Aberystwyth). Dalam usianya yang hampir mencapai satu abad, SHI telah banyak mengalami perkembangan baik secara epistemologis, ontologis dan metodologis. Secara epistemologis dan metodologis misalnya, perdebatan antar paradigma di dalam SHI telah menyumbangkan berbagai macam pendekatan teoritis dalam memahami isu-isu hubungan internasional.
Lalu secara ontologis, SHI telah menjadi kajian dengan objek kajian yang luas dan tidak lagi berpatokan pada superioritas negara sebagai aktor penting dalam hubungan internasional. Terkait dengan metodologi, perdebatan metodologis antara dua kelompok besar di dalam SHI memperlihatkan dinamika akademik yang menunjukkan bahwa SHI bukanlah disiplin ilmu yang biasa-biasa saja. Analisis terhadap perkembangan SHI dalam tulisan ini diharapkan bisa menjadi pemahaman dalam melihat SHI sebagai sebuah kajian ilmu dan bagaimana para akademisinya terlibat dalam upaya mencapai kondisi state of the art di dalam SHI[1].
Untuk membahas hal-hal tersebut, maka tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian. Pada bagian pertama akan dibahas tentang gambaran SHI secara umum, yaitu: sejarah berdirinya SHI, tentang komponen-komponen keilmuan yang menjadi pembentuk SHI dan tentang perbedaan penamaan dalam SHI. Di bagian kedua akan dibahas mengenai perubahan-perubahan di dalam SHI sebagai cabang ilmu politik, mulai dari epistemologi, ontologi dan metodologinya. Dan di bagian terakhir akan direview tentang dampak perkembangan epistemologis, ontologis dan metodologis ini terhadap HI sebagai sebuah ilmu.

Gambaran SHI Secara Umum          
Pertama, definisi dari SHI (study of international relations) mengalami perubahan. Awalnya, SHI didefinisikan sebagai studi tentang hubungan-hubungan atar negara[2]. Hubungan-hubungan tersebut hanya terbatas pada keamanan dan perang saja. Definisi tersebut berubah ketika aktor-aktor di dalam politik dunia bertambah dan bentuk hubungan menjadi lebih kompleks. Kini bisa dikatakan bahwa SHI adalah ilmu yang membahas tentang hubungan-hubungan antar aktor, baik itu negara, non negara (seperti organisasi internasional dan perusahaan multinasional) bahkan individu di dalam sistem internasional. SHI dalam hal ini, melihat pada segala jenis hubungan “harmoni ataupun konflik, damai ataupun perang, sipil ataupun militer, politis maupun ekonomis”[3].
Hal yang menarik juga di dalam penamaan ini adalah sebagian orang berpendapat bahwa ‘hubungan internasional’adalah ilmu yang kajiannya lebih sempit dan hampir mirip dengan pengertian politik internasional yang memfokuskan pada kajian hubungan antar negara, seperti: perang, diplomasi, keamanan, dan hubungan ekonomi[4]. Kedua, SHI adalah sebuah kajian ilmu yang masih muda umurnya (diperkenalkan pertama kali tahun 1919). Dunia saat itu baru saja dihadapkan dengan Perang Dunia I yang banyak mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan materi. Masyarakat dunia saat itu disibukkan dengan usaha-usaha rekonstruksi pasca perang. Selain perbaikan infrastruktur akibat perang, masyarakat dunia juga melakukan usaha-usaha untuk mencegah terjadinya perang yang serupa.
Woodrow Wilson misalnya, memprakarsai terbentuknya lembaga internasional yang bertujuan untuk mencapai perdamaian dunia, yaitu Liga Bangsa Bangsa pada tahun 1919. Di Inggris, usaha mencegah terjadinya perang dilakukan melalui dunia pendidikan. Seorang David Davies misalnya memberikan bantuan sebesar £20.000 kepada Universitas Wales (sekarang menjadi University Aberystwyth) untuk membentuk sebuah lembaga (yang diberi nama The Woodrow Wilson Chair) yang ditujukan untuk mempelajari tentang alasan-alasan manusia untuk berkonflik, berperang dan tentang kerugian yang diakibatkan oleh perang. Tak lama setelah dibukanya lembaga tersebut, beberapa universitas lain baik di Inggris maupun Amerika Serikat membuka jurusan yang sama[5]. Ketiga, patut diketahui bahwa SHI adalah sebuah disiplin ilmu yang terbentuk dari gabungan dari beberapa disiplin ilmu sebelumnya. Beberapa disiplin ilmu tersebut antara lain adalah[6]:
1.               Hukum internasional. Hukum internasional menekankan pada aturan-aturan yang dibuat untuk mengatur hubungan antar negara-negara yang ada di dunia. Pemikiran-pemikiran yang dihasilkan para ahli hukum seperti Hugo Grotius sangat berpengaruh di sini.
2.  Sejarah diplomasi. Diplomasi adalah bagian dari instrumen kebijakan luar negeri sebuah     negara. Ilmu diplomasi sendiri memiliki sejarah yang sangat panjang dan hasil karya Thucydides dari Yunani dan Niccolo Machiavelli dari Italia dipandang sebagai bagian penting dari perkembangan diplomasi sebagai sebuah ilmu.
3. Ilmu kemiliteran (the art of war). Ilmu kemiliteran bahkan lebih tua keberadaannya dari pada hukum internasional dan diplomasi. Ilmu kemiliteran berbicara mengenai: sejarah militer, strategi dan taktik, organisasi militer, teknologi militer dan disiplin dan moral. Kontributor ilmu kemiliteran mulai dari Sun Tzu di Cina hingga Carl von Clausewitz dari Prussia memiliki pengaruh yang besar terhadap pemimpin negara maupun pimpinan militer dari berbagai negara.
4.  Politik internasional. Politik internasional adalah cabang ilmu politik yang membahas tentang dimensi kekuatan (power) dan keseimbangan antara kekuatan-kekuatan (political equilibrium) dalam interaksi negara-negara di dunia.
5. Organisasi internasional (OI). Studi mengenai organisasi internasional adalah termasuk kajian ang baru. OI mulai berkembang pasca Perang Dunia I seiring dengan semakin banyaknya kerjasama antar negara yang diwujudkan melalui pembentukan organisasi internasional.
6. Perdagangan internasional. Ilmu perdagangan internasional berkembang pada abad ke 17 ketika aktivitas perdagangan internasional semakin meningkat.
7. Pemerintahan jajahan (colonial government). Bahasan-bahasan mengenaipemerintahan jajahan telah dimulai sejak masa Yunani dan Romawi kuno.
8. Pelaksanaan hubungan luar negeri (conduct of foreign relations). Membahas tentang pengambilan kebijakan luar negeri sebuah negara.



[1] Dosen Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIP Universitas Riau.
[2]  Chris Brown, 2001. Understanding International Relations, 2nd ed., New York: Palgrave.
[3] J.C. Johari, 1985. International Relations and Politics (Theoritical Perspectives), New Delhi: Sterling
Publishers Private Limited, hal. 9.
[4] Pembedaan ini ditemukan di dalam mata kuliah Global Politics yang ditawarkan di Departemen Ilmu
Politik di California State University, Los Angeles, Amerika Serikat:
<http://instructional1.calstatela.edu/tclim/W11_Courses/374_w11.htm>
[5] Department of International Politics, 2011. The Legacy of One Man’s Vision, University of Aberystwyth,
diakses dari <http://www.aber.ac.uk/en/interpol/about/>, pada tanggal 5 November 2011
[6] Suwardi Wiriatmadja, 1967. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Surabaya: Penerbit Tinta Mas, lihat juga Walter Carlsnaes, Thomas Risse & Beth A Simmons, 2002. Handbook of International Relations,  London: SAGE Publications Ltd.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar