Perkembangan
Studi Hubungan International
Muhammad
Afrizal
Abstract
Makalah ini
mendeskripsikan Ilmu Hubungan Internasional sebagai sebuah kajian . Sementara
minat untuk belajar bagaimana negara berinteraksi dengan satu lain dan
bagaimana kekuasaan mempengaruhi hubungan dapat ditelusuri kembalikarya
Kautilya dan Thucydides ratus tahun yang lalu, modernstudi IR masih dianggap
sebagai disiplin ilmu baru. Hal ini dapat dilihat dengan Fakta bahwa pembukaan
pertama kelas IR didirikan pada tahun 1919 menyusul akhir Perang Dunia I.
Makalah ini akan berfokus pada bagaimana hampir satu abad kemudian studi IR
telah meningkat secara signifikan dalam hal epistemologi, ontologi, sebagai
serta metodologi, karena kompleksitas dari sistem internasional.
Keywords:
International Relations, knowledge, epistemology, ontology, methodology.
Pendahuluan
Tulisan
ini dibuat untuk memperlihatkan perkembangan Studi Hubungan Internasional (SHI)
sejak SHI menjadi kajian akademik formal pada tahun 1919 di Universitas Wales
di Aberystwyth Inggris (sekarang menjadi Universitas Aberystwyth). Dalam
usianya yang hampir mencapai satu abad, SHI telah banyak mengalami perkembangan
baik secara epistemologis, ontologis dan metodologis. Secara epistemologis dan
metodologis misalnya, perdebatan antar paradigma di dalam SHI telah
menyumbangkan berbagai macam pendekatan teoritis dalam memahami isu-isu
hubungan internasional.
Lalu
secara ontologis, SHI telah menjadi kajian dengan objek kajian yang luas dan
tidak lagi berpatokan pada superioritas negara sebagai aktor penting dalam
hubungan internasional. Terkait dengan metodologi, perdebatan metodologis
antara dua kelompok besar di dalam SHI memperlihatkan dinamika akademik yang
menunjukkan bahwa SHI bukanlah disiplin ilmu yang biasa-biasa saja. Analisis terhadap
perkembangan SHI dalam tulisan ini diharapkan bisa menjadi pemahaman dalam
melihat SHI sebagai sebuah kajian ilmu dan bagaimana para akademisinya terlibat
dalam upaya mencapai kondisi state of the art di dalam SHI[1].
Untuk
membahas hal-hal tersebut, maka tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa
bagian. Pada bagian pertama akan dibahas tentang gambaran SHI secara umum,
yaitu: sejarah berdirinya SHI, tentang komponen-komponen keilmuan yang menjadi
pembentuk SHI dan tentang perbedaan penamaan dalam SHI. Di bagian kedua akan
dibahas mengenai perubahan-perubahan di dalam SHI sebagai cabang ilmu politik,
mulai dari epistemologi, ontologi dan metodologinya. Dan di bagian terakhir
akan direview tentang dampak perkembangan epistemologis, ontologis dan metodologis
ini terhadap HI sebagai sebuah ilmu.
Gambaran
SHI Secara Umum
Pertama,
definisi dari SHI (study of international relations) mengalami perubahan. Awalnya,
SHI didefinisikan sebagai studi tentang hubungan-hubungan atar negara[2]. Hubungan-hubungan
tersebut hanya terbatas pada keamanan dan perang saja. Definisi tersebut
berubah ketika aktor-aktor di dalam politik dunia bertambah dan bentuk hubungan
menjadi lebih kompleks. Kini bisa dikatakan bahwa SHI adalah ilmu yang membahas
tentang hubungan-hubungan antar aktor, baik itu negara, non negara (seperti
organisasi internasional dan perusahaan multinasional) bahkan individu di dalam
sistem internasional. SHI dalam hal ini, melihat pada segala jenis hubungan
“harmoni ataupun konflik, damai ataupun perang, sipil ataupun militer, politis
maupun ekonomis”[3].
Hal
yang menarik juga di dalam penamaan ini adalah sebagian orang berpendapat bahwa
‘hubungan internasional’adalah ilmu yang kajiannya lebih sempit dan hampir
mirip dengan pengertian politik internasional yang memfokuskan pada kajian
hubungan antar negara, seperti: perang, diplomasi, keamanan, dan hubungan
ekonomi[4]. Kedua, SHI adalah sebuah
kajian ilmu yang masih muda umurnya (diperkenalkan pertama kali tahun 1919).
Dunia saat itu baru saja dihadapkan dengan Perang Dunia I yang banyak
mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan materi. Masyarakat dunia saat itu
disibukkan dengan usaha-usaha rekonstruksi pasca perang. Selain perbaikan
infrastruktur akibat perang, masyarakat dunia juga melakukan usaha-usaha untuk
mencegah terjadinya perang yang serupa.
Woodrow
Wilson misalnya, memprakarsai terbentuknya lembaga internasional yang bertujuan
untuk mencapai perdamaian dunia, yaitu Liga Bangsa Bangsa pada tahun 1919. Di
Inggris, usaha mencegah terjadinya perang dilakukan melalui dunia pendidikan.
Seorang David Davies misalnya memberikan bantuan sebesar £20.000 kepada
Universitas Wales (sekarang menjadi University Aberystwyth) untuk membentuk
sebuah lembaga (yang diberi nama The Woodrow Wilson Chair) yang ditujukan untuk
mempelajari tentang alasan-alasan manusia untuk berkonflik, berperang dan
tentang kerugian yang diakibatkan oleh perang. Tak lama setelah dibukanya
lembaga tersebut, beberapa universitas lain baik di Inggris maupun Amerika Serikat
membuka jurusan yang sama[5]. Ketiga, patut diketahui
bahwa SHI adalah sebuah disiplin ilmu yang terbentuk dari gabungan dari
beberapa disiplin ilmu sebelumnya. Beberapa disiplin ilmu tersebut antara lain
adalah[6]:
1.
Hukum internasional. Hukum internasional
menekankan pada aturan-aturan yang dibuat untuk mengatur hubungan antar
negara-negara yang ada di dunia. Pemikiran-pemikiran yang dihasilkan para ahli
hukum seperti Hugo Grotius sangat berpengaruh di sini.
2. Sejarah diplomasi. Diplomasi adalah bagian
dari instrumen kebijakan luar negeri sebuah
negara. Ilmu diplomasi sendiri memiliki sejarah yang sangat panjang dan
hasil karya Thucydides dari Yunani dan Niccolo Machiavelli dari Italia
dipandang sebagai bagian penting dari perkembangan diplomasi sebagai sebuah
ilmu.
3.
Ilmu kemiliteran (the art of war). Ilmu kemiliteran bahkan lebih tua
keberadaannya dari pada hukum internasional dan diplomasi. Ilmu kemiliteran
berbicara mengenai: sejarah militer, strategi dan taktik, organisasi militer, teknologi
militer dan disiplin dan moral. Kontributor ilmu kemiliteran mulai dari Sun Tzu
di Cina hingga Carl von Clausewitz dari Prussia memiliki pengaruh yang besar
terhadap pemimpin negara maupun pimpinan militer dari berbagai negara.
4. Politik internasional. Politik internasional
adalah cabang ilmu politik yang membahas tentang dimensi kekuatan (power) dan
keseimbangan antara kekuatan-kekuatan (political equilibrium) dalam interaksi
negara-negara di dunia.
5.
Organisasi internasional (OI). Studi mengenai organisasi internasional adalah
termasuk kajian ang baru. OI mulai berkembang pasca Perang Dunia I seiring dengan semakin banyaknya kerjasama antar negara
yang diwujudkan melalui pembentukan organisasi internasional.
6. Perdagangan internasional. Ilmu perdagangan
internasional berkembang pada abad ke 17 ketika aktivitas perdagangan
internasional semakin meningkat.
7. Pemerintahan jajahan (colonial government).
Bahasan-bahasan mengenaipemerintahan jajahan telah dimulai sejak masa Yunani
dan Romawi kuno.
8. Pelaksanaan hubungan luar negeri (conduct
of foreign relations). Membahas tentang pengambilan kebijakan luar negeri
sebuah negara.
[1]
Dosen Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIP Universitas Riau.
[3] J.C.
Johari, 1985. International
Relations and Politics (Theoritical Perspectives), New Delhi: Sterling
Publishers Private Limited, hal. 9.
[4] Pembedaan
ini ditemukan di dalam mata kuliah Global Politics yang ditawarkan di
Departemen Ilmu
Politik
di California State University, Los Angeles, Amerika Serikat:
<http://instructional1.calstatela.edu/tclim/W11_Courses/374_w11.htm>
[5] Department
of International Politics, 2011. The Legacy of One Man’s Vision, University of Aberystwyth,
diakses dari <http://www.aber.ac.uk/en/interpol/about/>,
pada tanggal 5 November 2011
[6] Suwardi
Wiriatmadja, 1967. Pengantar
Ilmu Hubungan Internasional, Surabaya: Penerbit
Tinta Mas, lihat juga Walter Carlsnaes, Thomas Risse & Beth A Simmons,
2002. Handbook
of International Relations, London: SAGE Publications Ltd.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar