Rabu, 26 Oktober 2016

Peran NGO Indonesia terhadap Palestina

            

Peran NGO Indonesia terhadap Palestina
By Muhammad Afrizal

            Peran aktif NGO di Indonesia  mempunyai dampak positif  terhadap warga palestina dari berbagai dimensi dan sudut pandang, hal tersebut menjadikan lembaga – lembaga ini memliki fungsi yang sangat luar biasa, dengan demikian NGO selalu memberikan kontribusi terhadap berbagai permasalahan serta tragedi kemanuasiaan yang umumnya terjadi di negara – negara konflik seperti palestina, banyak dari NGO tersebut seperti Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap/ACT, Mer-C, Komite Nasional untuk Rakyat Palestina/KNRP dan lembaga lainnya. sehingga  pertolongan tersebut sangat dirasakan manfaatnya oleh rakyat Palestina, seperti bantuan pembangunan rumah sakit oleh Mer-C Indonesia di daerah tepi barat Gaza, bantuan pangan oleh aksi cepat tanggap, dan program bantuan kemanusiaan lainnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan perkatakan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Dr. H Abdurrahman Mohammad Fachir usai membuka acara International Conference of Islamic of Media (ICIM) bertema: “Islamic Media United to Protect Islam and Muslim Interests Especially Palestine and Al-Quds Liberation”
Wakil Menteri Luar Negeri Dr. H. Abdurrahman Mohammad Fachir pun berharap NGO di Indonesia dapat  membantu lebih banyak lagi terhadap  rakyat Palestina dan bisa bersinergi dengan media-media khususnya media yang berbasis muslim di seluruh dunia. Karena perjuangan rakyat Palestina dalam memerdekakan negaranya adalah problem kemanusiaan. Termasuk ketidakadilan yang dirasakan rakyat Palestina itu juga termasuk  problem kemanusiaan.              Oleh sebab itu Ia melihat hampir semua pertemuan-pertemuan yang dilakukan, seperti peremuan organisasi Islam dunia/OKI, yang ditekankan adalah masalah persatuan, yang dikedepankan adalah masalah keadilan. Persatuan adalah antar kita (negara berbasis muslim), sedangkan keadilan adalah dunia memandang adil terhadap apa yang terjadi, terutama di Palestina yang sampai sekarang belum merdeka.
            Sedangkan menurut KH Yakhsyallah Mansur, MA (Ketua Steering Committee ICIM), dalam ICIM ini sendiri dibahas tentang peran media Islam dalam mendukung perjuangan bangsa Palestina  melepaskan diri dari penjajahan Israel, serta pembelaan pada dunia Islam. Panitia ICIM ini pun mengundang 50 pimpinan redaksi kantor berita dan media massa dari 50 negara di  dunia. Hadir beberapa pembicara seperti:  East Monitor MEMO, (Inggris), Dr.Syamsi Ali (Grand Imam of New York Masjid, USA), DR.Muhammad Azmi Abdul Hamid (Presiden MAPIM, Malaysia), Dr.Ahmad Abdul Malik (Ulama Muda Nigeria) dan Imam Jamaah Muslimin (Hizbullah), Taufik Ismail (Penyair Senior) dan Prof. Dr. Hj. Nabilah Lubis  (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).        Sebagaimana yang telah diketahui situs ACT sebelumnya, berdasarkan laporan aktifis Indonesia untuk Palestina Abdillah Onim, hingga saat ini para Zionis Israel telah menjatuhkan tak kurang dari 447 roket di atas kota Gaza, 374 serangan udara, menjatuhkan 34 boms marine. Akibat serangan itu, 111 rumah yang menjadi target 17 rumah rata dengan tanah, 95 alami kerusakan parah, 2 masjid hancur, satu rumah sakit rusak terkena bom, satu ambulan remuk hingga tak berfungsi lagi.
            Sebanyak 63 jiwa warga Palestina gugur dalam situasi tersebut, dan yang lebih memprihatinkan lagi korbannya adalah anak-anak. Sebagian besar warga Palestina yang terluka kesulitan untuk mengakses dan mendapatkan layanan kesehatan. seluruh rumah sakit di Gaza kehabisan obat, khususnya obat bius. Mereka juga membutuhkan bantuan makanan.
Aksi Cepat Tanggap (ACT) merupakan sebuah organisasi nirlaba profesional yang memfokuskan kerjasama kemanusiaan pada penanggulangan bencana mulai fase darurat sampai dengan fase pemulihan paska bencana. Organisasi ini pertamakali melakukan aksinya sejak tahun 1994 di Liwa, Lampung Barat dalam meresponse bencana gempa bumi. Tonggak kemandirian lembaga sejak resmi menjadi Yayasan Aksi Cepat Tanggap tanggal 21 April 2005. Banyak dari aksi ini yang perlu diapresiasi seperti pada penyegeraan pemberangkatan empat relawan yang dipimpin Andhika Purbo Swasono dari ACT, menyerahkan amanah bantuan dari masyarakat yang telah terkumpul dua hari terakhir. Bentuk bantuan inshaa Allah akan diwujudkan dalam bentuk paket : pangan, kesehatan, dan energi
.          
Presiden Joko Widodo sendiri pun turut menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Dalam pertemuan itu, presiden Jokowi menyatakan akan terus memberikan dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina.  Jokowi dalam pertemuan tersebut menyampaikan butir-butir penting untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina sesuai dengan kerangka two state solution dan berbagai resolusi PBB yang relevan. Jokowi pun berjanji akan terus mendukung Palestina. Selain itu, Jokowi yang didampingi Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Masurdi, juga akan memaparkan hasil yang diharapkan dari KTT-LB OKI itu." Indonesia akan terus memberi dukungan terhadap kemerdekaan Palestina baik secara bilateral maupun dalam forum regional dan internasional," papar informasi tertulis yang diterima Dream dari Biro Informasi dan Media Kemenlu, Minggu, 6 Maret 2016.             Dalam beberapa tahun terakhir, dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina semakin menguat. Indonesia bahkan telah menjadi pendukung Pengibaran Bendera Palestina di Markas PBB pada tanggal 30 September 2015.
            Tak hanya itu, dukungan Indonesia kepada Palestina juga dilakukan dengan membangun Kantor Konsulat Kehormatan RI di kota Ramallah. Kantor konsulat itu rencananya akan diresmikan dalam waktu dekat. Dengan dibangunnya kantor konsulat RI itu, semakin tegas menunjukkan komitmen bantuan yang diberikan Indonesia. Seperti yang diketahui, hubungan bilateral Indonesia-Palestina dikenal sangat erat. Dukungan Indonesia terhadap Palestina telah terjadi sejak masa kemerdekaan Indonesia.         Selain terlibat dukungan diplomatik dan kemanusiaan, Indonesia-Palestina juga terlibat dalam perdagangan bilateral. Dalam proses perdagangan bilateral yang dilakukan dua tahun terakhir, 2014 dan 2016, mencapai total nilai perdagangan sebesar US$ 4,69 juta (Rp609 miliar).
            Adara Relief International (Adara) telah kembali berpartisipasi dalam pembelaan Al-Quds dan Palestina. Kali ini, Adara mengikuti Forum Muslimah Internasional  yang diselenggarakan Aliansi Muslimah Internasional yang diketuai Dr Amal Khalifah dari Mesir. "Di forum ini, Adara juga mengajak beberapa tokoh wanita yang mewakili lembaganya masing-masing," katan Ketua Adara Relief International Nurjanah Hulwani di Hotel Kaya Ramada, Istanbul, Turki, Ahad (9/10).
Nurjanah mengatakan, forum Muslimah ini merupakan bagian dari rangkaian Forum Internasional Aktivis Islam ke-8 yang diadakan Aliansi  Internasional Pembelaan Al-Quds dan Palestina. Kegiatan ini bekerja sama dengan TAIM (Turk-Arap Iliskileri Mekezi), yang diadakan selama tiga hari di Istanbul, Turki. Acara yang resmi digelar sejak Jumat (7/10) pagi ini dibuka oleh Ketua Aliansi Muslimah Internasional sekaligus pakar Palestina, Dr Amal Khalifah.
            Menurut banyak pihak pesan dalam sambutan Dr Amal Khalifah memberikan inspirasi kepada yang setiap orang yang hadir. Mulai dari dengan kehadiran Adara dan delegasi lain sebagai penggugur kewajiban atau fardhu kifayah kaum muslimin dalam membebaskan Palestina dan Masjid Al-Aqsha. Bahkan bagi mereka yang hadir hukumnya adalah fardhu ‘ain. Keikhlasan niat demi kejayaan Islam juga menjadi pengingat peserta yang hadir dalam forum ini, karena kejayaan Islam tidak akan tercapai jika tidak memiliki iman yang baik dan dikuasai hawa nafsu,” terang Nurjanah melengkapi pesan Dr. Amal Khalifah. Nurjanah yang merupakan delegasi tokoh muslimah Indonesia ini menyampaikan pesannya di atas podium. Dalam orasinya Nurjanah, wanita asli Jakarta ini menyampaikan, program Adara dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan Masjid Al-Aqsha. Dirinya mengatakan, setidaknya ada tiga agenda besar dalam tahun ini.
            Pertama kerja sama Adara dengan beberapa ormas muslimah di Indonesia, salah satunya PP Salimah yang memiliki perwakilan tersebar di 34 propinsi di Indonesi. Hal ini, merupakan langkah strategis untuk Nasrul fikroh tentang urgensi membantu perjuangan sauadara-saudara kita di Palestina,” ungkap Nurjanah. Kedua, Adara bekerja sama dengan Forum Silaturahim Majelis Taklim (FORSITMA), dengan menyelenggarakan lomba ceramah pendek atau kuliah tujuh menit (kultum) tentang Palestina yang diikuti oleh para ustazah di tiap majelis taklim. FORSITMA ini tergabung di dalamnya sekitar 3.000 Majelis Taklim yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya.             Ketiga, masih menurut wanita yang telah dua kali ke Jalur Gaza ini menyampaikan, baru-baru ini Adara telah menyalurkan hewan kurban untuk pengungsi Palestina serta untuk Suriah. Yang menjadi sebuah kesyukuran adalah bantuan tersebut telah mereka salurkan pada bulan September 2016, bersama dengan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina.
MER-C atau Medical Emergency Rescue Committe adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela dan mobilitas tinggi. MER-C bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. Organisasi ini dibentuk di Jakarta, 14 Agustus 1999 oleh sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia yang berinisiatif melakukan tindakan medis untuk membantu korban konflik di Maluku, Indonesia Timur. Organisasi sosial kemanusiaan, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), berkomitmen untuk terus mendukung Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, meski rumah sakit tersebut telah diserahkan untuk dikelola sepenuhnya oleh Kementerian Kesehatan Palestina. Tim medis tersebut akan selalu membantu pelayanan di RSI serta mendukung penuh pendalaman ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada para dokter di Gaza. MER-C juga akan terus melakukan komunikasi dengan tim kesehatan di Gaza untuk mengetahui kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi di RSI.
Selain mengirim tenaga ahli, MER-C juga masih akan membantu biaya operasional RSI. Hal ini dilakukan untuk menjamin keberlangsungan RSI karena kondisi perekonomian yang tidak menentu di Jalur Gaza. RSI di Gaza resmi dibuka pada 24 Desember tahun lalu. Sejak diresmikan untuk pertama kalinya  banyak pihak yang menilai khususnya  Site Manager RSI Edy Wahyudi Darta yang beranggapan bahwasanya  kebermanfaatan RSI sudah bisa dirasakan oleh warga Palestina, khususnya yang tinggal di Gaza. Setiap harinya, RSI menerima hampir 400 pasien, mulai dari kasus kesehatan umum hingga masalah kesehatan akibat konflik senjata (perang).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar