Peran
NGO Indonesia terhadap Palestina
By
Muhammad Afrizal
Peran aktif NGO di Indonesia mempunyai dampak positif terhadap warga palestina dari berbagai
dimensi dan sudut pandang, hal tersebut menjadikan lembaga – lembaga ini
memliki fungsi yang sangat luar biasa, dengan demikian NGO selalu memberikan
kontribusi terhadap berbagai permasalahan serta tragedi kemanuasiaan yang
umumnya terjadi di negara – negara konflik seperti palestina, banyak dari NGO
tersebut seperti Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap/ACT, Mer-C, Komite
Nasional untuk Rakyat Palestina/KNRP dan lembaga lainnya. sehingga pertolongan tersebut sangat dirasakan
manfaatnya oleh rakyat Palestina, seperti bantuan pembangunan rumah sakit oleh
Mer-C Indonesia di daerah tepi barat Gaza, bantuan pangan oleh aksi cepat
tanggap, dan program bantuan kemanusiaan lainnya. Hal ini dapat dibuktikan
dengan perkatakan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Dr. H Abdurrahman
Mohammad Fachir usai membuka acara International Conference of Islamic of Media
(ICIM) bertema: “Islamic Media United to Protect Islam and Muslim Interests
Especially Palestine and Al-Quds Liberation”
Wakil Menteri Luar Negeri Dr. H. Abdurrahman Mohammad Fachir pun
berharap NGO di Indonesia dapat membantu
lebih banyak lagi terhadap rakyat
Palestina dan bisa bersinergi dengan media-media khususnya media yang berbasis
muslim di seluruh dunia. Karena perjuangan rakyat Palestina dalam memerdekakan
negaranya adalah problem kemanusiaan. Termasuk ketidakadilan yang dirasakan
rakyat Palestina itu juga termasuk problem kemanusiaan. Oleh sebab itu Ia melihat hampir
semua pertemuan-pertemuan yang dilakukan, seperti peremuan organisasi Islam
dunia/OKI, yang ditekankan adalah masalah persatuan, yang dikedepankan adalah
masalah keadilan. Persatuan adalah antar kita (negara berbasis muslim),
sedangkan keadilan adalah dunia memandang adil terhadap apa yang terjadi,
terutama di Palestina yang sampai sekarang belum merdeka.
Sedangkan menurut KH Yakhsyallah
Mansur, MA (Ketua Steering Committee ICIM), dalam ICIM ini sendiri dibahas
tentang peran media Islam dalam mendukung perjuangan bangsa Palestina
melepaskan diri dari penjajahan Israel, serta pembelaan pada dunia Islam. Panitia
ICIM ini pun mengundang 50 pimpinan redaksi kantor berita dan media massa dari
50 negara di dunia. Hadir beberapa pembicara seperti: East Monitor
MEMO, (Inggris), Dr.Syamsi Ali (Grand Imam of New York Masjid, USA),
DR.Muhammad Azmi Abdul Hamid (Presiden MAPIM, Malaysia), Dr.Ahmad Abdul Malik
(Ulama Muda Nigeria) dan Imam Jamaah Muslimin (Hizbullah), Taufik Ismail
(Penyair Senior) dan Prof. Dr. Hj. Nabilah Lubis (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Sebagaimana yang telah diketahui
situs ACT sebelumnya, berdasarkan laporan aktifis Indonesia untuk Palestina
Abdillah Onim, hingga saat ini para Zionis Israel telah menjatuhkan tak kurang
dari 447 roket di atas kota Gaza, 374 serangan udara, menjatuhkan 34 boms
marine. Akibat serangan itu, 111 rumah yang menjadi target 17 rumah rata dengan
tanah, 95 alami kerusakan parah, 2 masjid hancur, satu rumah sakit rusak
terkena bom, satu ambulan remuk hingga tak berfungsi lagi.
Sebanyak 63 jiwa warga Palestina
gugur dalam situasi tersebut, dan yang lebih memprihatinkan lagi korbannya adalah
anak-anak. Sebagian besar warga Palestina yang terluka kesulitan untuk
mengakses dan mendapatkan layanan kesehatan. seluruh rumah sakit di Gaza
kehabisan obat, khususnya obat bius. Mereka juga membutuhkan bantuan makanan.
Aksi Cepat Tanggap (ACT) merupakan
sebuah organisasi nirlaba profesional yang
memfokuskan kerjasama kemanusiaan pada penanggulangan bencana mulai fase
darurat sampai dengan fase pemulihan paska bencana. Organisasi ini pertamakali
melakukan aksinya sejak tahun 1994 di Liwa, Lampung Barat dalam meresponse
bencana gempa bumi. Tonggak kemandirian lembaga sejak resmi menjadi Yayasan
Aksi Cepat Tanggap tanggal 21 April 2005. Banyak dari aksi ini yang
perlu diapresiasi seperti pada penyegeraan pemberangkatan empat relawan yang
dipimpin Andhika Purbo Swasono dari ACT, menyerahkan amanah bantuan dari
masyarakat yang telah terkumpul dua hari terakhir. Bentuk bantuan inshaa Allah
akan diwujudkan dalam bentuk paket : pangan, kesehatan, dan energi
.
Presiden Joko Widodo sendiri pun turut menggelar pertemuan bilateral
dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Dalam pertemuan itu, presiden Jokowi
menyatakan akan terus memberikan dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan
Palestina. Jokowi dalam pertemuan
tersebut menyampaikan butir-butir penting untuk mendukung perjuangan
kemerdekaan Palestina sesuai dengan kerangka two state solution dan
berbagai resolusi PBB yang relevan. Jokowi pun berjanji akan terus mendukung
Palestina. Selain itu, Jokowi yang didampingi Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno
Masurdi, juga akan memaparkan hasil yang diharapkan dari KTT-LB OKI itu."
Indonesia akan terus memberi dukungan terhadap kemerdekaan Palestina baik
secara bilateral maupun dalam forum regional dan internasional," papar
informasi tertulis yang diterima Dream dari Biro Informasi dan Media Kemenlu,
Minggu, 6 Maret 2016. Dalam
beberapa tahun terakhir, dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina
semakin menguat. Indonesia bahkan telah menjadi pendukung Pengibaran Bendera
Palestina di Markas PBB pada tanggal 30 September 2015.
Tak hanya itu, dukungan Indonesia kepada
Palestina juga dilakukan dengan membangun Kantor Konsulat Kehormatan RI di kota
Ramallah. Kantor konsulat itu rencananya akan diresmikan dalam waktu dekat. Dengan
dibangunnya kantor konsulat RI itu, semakin tegas menunjukkan komitmen bantuan
yang diberikan Indonesia. Seperti yang diketahui, hubungan bilateral
Indonesia-Palestina dikenal sangat erat. Dukungan Indonesia terhadap Palestina
telah terjadi sejak masa kemerdekaan Indonesia. Selain terlibat dukungan diplomatik dan kemanusiaan,
Indonesia-Palestina juga terlibat dalam perdagangan bilateral. Dalam proses
perdagangan bilateral yang dilakukan dua tahun terakhir, 2014 dan 2016,
mencapai total nilai perdagangan sebesar US$ 4,69 juta (Rp609 miliar).
Adara Relief International (Adara) telah
kembali berpartisipasi dalam pembelaan Al-Quds dan Palestina. Kali ini, Adara
mengikuti Forum Muslimah Internasional yang diselenggarakan Aliansi
Muslimah Internasional yang diketuai Dr Amal Khalifah dari Mesir. "Di
forum ini, Adara juga mengajak beberapa tokoh wanita yang mewakili lembaganya
masing-masing," katan Ketua Adara Relief International Nurjanah Hulwani di
Hotel Kaya Ramada, Istanbul, Turki, Ahad (9/10).
Nurjanah mengatakan, forum Muslimah ini merupakan bagian dari rangkaian Forum Internasional Aktivis Islam ke-8 yang diadakan Aliansi Internasional Pembelaan Al-Quds dan Palestina. Kegiatan ini bekerja sama dengan TAIM (Turk-Arap Iliskileri Mekezi), yang diadakan selama tiga hari di Istanbul, Turki. Acara yang resmi digelar sejak Jumat (7/10) pagi ini dibuka oleh Ketua Aliansi Muslimah Internasional sekaligus pakar Palestina, Dr Amal Khalifah.
Nurjanah mengatakan, forum Muslimah ini merupakan bagian dari rangkaian Forum Internasional Aktivis Islam ke-8 yang diadakan Aliansi Internasional Pembelaan Al-Quds dan Palestina. Kegiatan ini bekerja sama dengan TAIM (Turk-Arap Iliskileri Mekezi), yang diadakan selama tiga hari di Istanbul, Turki. Acara yang resmi digelar sejak Jumat (7/10) pagi ini dibuka oleh Ketua Aliansi Muslimah Internasional sekaligus pakar Palestina, Dr Amal Khalifah.
Menurut banyak pihak pesan dalam
sambutan Dr Amal Khalifah memberikan inspirasi kepada yang setiap orang yang hadir.
Mulai dari dengan kehadiran Adara dan delegasi lain sebagai penggugur kewajiban
atau fardhu kifayah kaum muslimin dalam membebaskan Palestina dan Masjid
Al-Aqsha. Bahkan bagi mereka yang hadir hukumnya adalah fardhu ‘ain. Keikhlasan
niat demi kejayaan Islam juga menjadi pengingat peserta yang hadir dalam forum
ini, karena kejayaan Islam tidak akan tercapai jika tidak memiliki iman yang
baik dan dikuasai hawa nafsu,” terang Nurjanah melengkapi pesan Dr. Amal
Khalifah. Nurjanah yang merupakan delegasi tokoh muslimah Indonesia ini
menyampaikan pesannya di atas podium. Dalam orasinya Nurjanah, wanita asli
Jakarta ini menyampaikan, program Adara dalam memperjuangkan kemerdekaan
Palestina dan Masjid Al-Aqsha. Dirinya mengatakan, setidaknya ada tiga agenda
besar dalam tahun ini.
Pertama kerja sama Adara dengan
beberapa ormas muslimah di Indonesia, salah satunya PP Salimah yang memiliki
perwakilan tersebar di 34 propinsi di Indonesi. Hal ini, merupakan langkah
strategis untuk Nasrul fikroh tentang urgensi membantu perjuangan
sauadara-saudara kita di Palestina,” ungkap Nurjanah. Kedua, Adara bekerja sama
dengan Forum Silaturahim Majelis Taklim (FORSITMA), dengan menyelenggarakan
lomba ceramah pendek atau kuliah tujuh menit (kultum) tentang Palestina yang
diikuti oleh para ustazah di tiap majelis taklim. FORSITMA ini tergabung di
dalamnya sekitar 3.000 Majelis Taklim yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Ketiga, masih menurut wanita yang
telah dua kali ke Jalur Gaza ini menyampaikan, baru-baru ini Adara telah
menyalurkan hewan kurban untuk pengungsi Palestina serta untuk Suriah. Yang
menjadi sebuah kesyukuran adalah bantuan tersebut telah mereka salurkan pada
bulan September 2016, bersama dengan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina.
MER-C atau Medical Emergency Rescue Committe adalah organisasi
sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan
mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela dan mobilitas
tinggi. MER-C bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang,
kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di
dalam maupun di luar negeri. Organisasi ini dibentuk di Jakarta, 14 Agustus
1999 oleh sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia yang berinisiatif
melakukan tindakan medis untuk membantu korban konflik di Maluku, Indonesia Timur.
Organisasi sosial kemanusiaan, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C),
berkomitmen untuk terus mendukung Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, meski
rumah sakit tersebut telah diserahkan untuk dikelola sepenuhnya oleh
Kementerian Kesehatan Palestina. Tim medis tersebut akan selalu membantu pelayanan
di RSI serta mendukung penuh pendalaman ilmu pengetahuan dan keterampilan
kepada para dokter di Gaza. MER-C juga akan terus melakukan komunikasi dengan
tim kesehatan di Gaza untuk mengetahui kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi
di RSI.
Selain mengirim tenaga ahli, MER-C juga masih akan membantu biaya
operasional RSI. Hal ini dilakukan untuk menjamin keberlangsungan RSI karena
kondisi perekonomian yang tidak menentu di Jalur Gaza. RSI di Gaza resmi dibuka
pada 24 Desember tahun lalu. Sejak diresmikan untuk pertama kalinya banyak pihak yang menilai khususnya Site Manager RSI Edy Wahyudi Darta yang
beranggapan bahwasanya kebermanfaatan
RSI sudah bisa dirasakan oleh warga Palestina, khususnya yang tinggal di Gaza.
Setiap harinya, RSI menerima hampir 400 pasien, mulai dari kasus kesehatan umum
hingga masalah kesehatan akibat konflik senjata (perang).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar