Geopolitik dan Geostrategi Pada Masa Orde Lama
By Muhammad Afrizal
Geopolitik secara etimologi berasal dari kata geo ( bahasa
yunani ) yang berarti bumi yang menjadi wilayah hidup. Sedangkan, politik
berasal dari kata polis yang berarti kesatuan masyarakat atau negara
yang berdiri sendiri . Jadi, Geopolitik adalah ilmu yang mempelajari hubungan
antar fator-faktor geografi, strategi dan politik suatu negara. Geostrategi adalah suatu strategi yang memanfaatkan
konstelasi geografi dalam menentukan kebijakan dan sasaran-sasaran, untuk
mencapai tujuan nasional. Strategi diartikan sebagai ilmu dan seni menggunakan
sumber daya bangsa untuk melaksakan kebijakan tertentu dalam perang maupun
damai.
Kasus Irian Jaya
Sebelum nama Papua dikenal seperti saat
ini adalah Irian Barat, ada banyak nama yang diberikan untuk menyebut pulau
yang di ujung timur Indonesia ini, misalnya pada akhir tahun 1300, Kerajaan
Majapahit menyebut Papua dengan dua nama, yakni Wanin dan Sram. Tahun 1545,
Inigo Ortiz de Retes pelaut asal Spanyol memberi nama Nueva Guinee / Nugini.
Sekitar tahun 1646, Kerajaan Tidore memberi nama untuk pulau ini Papa-Ua,
kemudian berubah menjadi Papua. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda,
wilayah ini dikenal dengan sebutan Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New
Guinea, Nugini Nederland atau Nugini Belanda.
Pulau yang terletak di wilayah paling timur Indonesia ini
terkenal dengan kekayaan sumber daya alam seperti emas dan bahan industri
lainnya. Hingga membuat Irian Barat menjadi daya tarik tersendiri bagi
bangsa-bangsa kolonial , di antaranya adalah Belanda yang telah menjajah Irian
Barat sejak tahun 1828. Hal ini dapat dibuktikan melalui peninggalan Benteng
Fort Du Bus di Teluk Triton, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Nama Ford du Bus
diambil dari nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa saat itu, L.P.J.
Burggraaf du Bus de Gisignies. Namun secara politik praktis, penjajahan Belanda
di Papua Barat baru dimulai pada tahun 1898, yaitu ketika parlemen Belanda
menyetujui pembentukan struktur pemerintahan pertama di Manokwari dan Fakfak
yang berada dibawah komando kepemimpinan administrasi Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia
Berlangsungnya Perang Pasifik yang merupakan bagian dari
Perang Dunia II telah mengubah posisi Belanda di Indonesia. Kedudukan Belanda
yang telah berlangsung selama tiga setengah abad digantikan oleh Jepang pada
tanggal 19 April 1942. Berakhirnya Perang Dunia II dengan kekalahan telak
Jepang atas Sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat ditandai
dengan pengumuman Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 15 Agustus
1945. Pengumuman ini didengar oleh tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan
tanpa menunggu janji Jepang yang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia
pada 24 Agustus 1945, serta atas desakan para pemuda, Soekarno-Hatta
kemudian memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Keesokan harinya yaitu 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(PPKI) melantik Soekarno sebagai Presiden dan Mohammad Hatta sebagai Wakil
Presiden.
Di sisi lain, Belanda menganggap
kekalahan Jepang merupakan peluang baru bagi negaranya untuk kembali menguasai
Indonesia, terutama Irian Barat. Tindakan ini tidak hanya dilakukan melalui
serangkaian agresi militer namun juga pemboikotan ekonomi dan politik
manipulatif, di antaranya menggunakan alasan etnis, bahwa Irian Barat berbeda
dengan bangsa Indonesia. Tujuannya agar Irian Barat dapat dipisahkan dari
wilayah kesatuan Indonesia.
Persoalan pembebasan Irian Barat
tentu saja tidak bisa dilepaskan dari pertarungan politik global yang saat itu
terpecah antara Blok Barat dan Blok Timur. Peran Soekarno dalam membangun
kekuatan Gerakan Non Blok melalui kebijakan politik luar negeri Indonesia yang
Bebas dan Aktif sebagaimana yang dirumuskan oleh Muhammad Hatta tidak hanya
berhasil membuat posisi Indonesia menjadi negara yang sangat disegani di dunia
internasional tetapi juga berhasil menggalang dukungan dari negara-negara
tetangga.
Strategi Politik Luar Negeri
Indonesia Sebagai negara yang baru merdeka, Indonesia harus menghadapi banyak
masalah di berbagai sektor, di antaranya sektor ekonomi, sosial, politik, dan
militer. Masuknya Sekutu melalui AFNEI (Allied Forces Netherland East Indies)
dan kedatangan kembali Belanda melalui NICA (Nederlands Indies Civil
Administration) untuk mengambil alih pendudukan Jepang menimbulkan perlawanan
di berbagai daerah. Selain menghadapi agresi Belanda, Indonesia juga harus
menghadapi pemberontakan dari kelompok-kelompok yang tidak puas dengan kinerja pemerintah. (Vickers,
2011)
Banyaknya pergantian kabinet di masa Demokrasi Liberal juga mewarnai perjalanan
Indonesia di awal masa proklamasi. Kontak fisik antara Indonesia dan Belanda
menimbulkan korban di kedua belah pihak, kondisi ini membuat Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) memutuskan untuk campur tangan. Pemerintah kemudian
menyusun kebijakan politik luar negerinya agar pelaksanaannya tidak
bertentangan dengan kepentingan nasional yaitu pengakuan atas kemerdekaan
Indonesia serta mendapat dukungan dunia internasional dalam menghadapi agresi
Belanda. Pada masa Orde Lama, landasan operasional politik luar negeri sebagian
besar dinyatakan melalui maklumat dan pidato-pidato Presiden Soekarno.
Beberapa saat setelah kemerdekaan,
dikeluarkan Maklumat Politik Pemerintah tanggal 1 November 1945, yang memuat
hal-hal sebagai berikut: Politik damai dan hidup berdampingan secara damai
Politik tidak campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain Politik
bertetangga baik dan kerjasama dengan semua negara di bidang ekonomi, politik
dan lain-lain Politik berdasarkan Piagam PBB Pada dasarnya pengertian politik
luar negeri merupakan “action theory” atau kebijakan yang diambil oleh negara
dalam hubungannya dengan dunia internasional, untuk mencapai tujuan /
kepentingan nasional. Secara umum, politik luar negeri merupakan suatu
perangkat formula nilai, sikap, arah serta sasaran untuk mempertahankan,
mengamankan, memajukan dan mewujudkan kepentingan nasional di dalam percaturan
dunia internasional. Kepentingan nasional Indonesia pasca proklamasi
kemerdekaan mencakup dua hal. Pertama, memperoleh pengakuan dunia internasional
bahwa Indonesia adalah negara yang merdeka dan berdaulat. Kedua, mempertahankan
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mencakup seluruh wilayah bekas jajahan
Hindia Belanda, termasuk Irian Barat.
Memperjuangkan NKRI Sejarah
pembebasan Irian Barat adalah bagian dari sejarah Indonesia dalam
memperjuangkan terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui
lobi-lobi internasional. Perjuangan ini dilakukan secara langsung maupun tidak
langsung. Tindakan langsung dilakukan dengan mengemukakan persoalan Indonesia
di hadapan sidang Dewan keamanan PBB. Sementara tindakan tidak langsung adalah
menjalin hubungan baik dengan negara-negara yang mendukung Indonesia dalam
sidang-sidang PBB. Selain upaya di atas, Indonesia juga melakukan perundingan
langsung dengan Belanda untuk menyelesaikan konflik antara Indonesia-Belanda
menyangkut persoalan wilayah-wilayah yang masih dikuasai Belanda. Di tengah
upaya diplomasi ini, Belanda sering kali melanggar kesepakatan dengan
melancarkan agresi militer. Atas tindakan ini Belanda mendapat kecaman dari
dunia internasional, terutama dari negara-negara yang mengakui kemerdekaan
Indonesia.
Kasus G30S-PKI
G30 S PKI merupakan istilah untuk “gerakan 30 september 1965, PKI”
dimana para Komunis Indonesia membantai para Petinggi TNI. Walaupun pembantaian
tersebut sudah di mulai dari tahun 1948. PKI sendiri dulu berasal dari belanda
sendiri dengan nama gerakan social
democrat hindia belanda (ISDV) dan berubah menjadi partai komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1920-an. Gerakan ini
telah menghasilkan korban jiwa rakyat Indonesia sebesar 87.000 jiwa berdasarkan
hasil dari tim pemcari fakta yang di
bentuk oleh komando operasi tertinggi (KOTI).
Dan pada tahun
1965-1966 rakyat anti-komunis yang menantang keras PKI dan juga dikeluarkannya
perintah untuk mencari, menangkap, serta membunuh para PKI yang terkait dengan Gestapu oleh presiden serta peran besar
soeharto sebagai Panglima kostrad yang berjasa menumpas PKI pada waktu
itu. Gerakan komunis ini memiliki tujuan untuk merubah paham ideology bangsa
Indonesia yaitu Pancasila menjadi komunis. Dan perubahan tersebut memiliki
dampak dari berbagai sektor mulai dari system ekonomi, kebudayaan, dan GEO-Politik
Indonesia itu sendiri.
Para komunis untuk melancarkan revolusinya di Indonesia, memakai
system demoralization (demoralisasi) dimana memiliki 2 langkah, pertama untuk memecah belah aparat militer dan kedua
memecah belah dengan melalui terror. Cara
ini sangat ampuh untuk mengubah tentara resmi berpihak kepada gerakan
revolusi komunis, dan ini terjadi dengan bukti bergabungnya kaum intellectual
dan military dalam
kelompok komunis.Para PKI mendapat bantuan seperti persenjataan dari Rusia
serta RRC. Berjumlah 10.000 pucuk senjata api untuk mempermudah serta
mempersenjatai mereka sendiri. Kegagalan
komunis untuk menetapkan
kesetaraan, kepatuhan, kedisiplinan sangat bertentangan dengan kebudayaan yang
sudah ada di Indonesia yang lebih berisikan kekeluargaan, serta gotong royong.
Bibliography
Vickers, A. (2011). Sejarah Indonesia Modern.
Yogyakarta: PT. Pustaka Insan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar