DAFTAR ISI
DAFTAR
ISI....................................................................................................................
1
BAB 1 : PENDAHULUAN..............................................................................................
2
A.
LATAR BELAKANG MASALAH..............................................................
2
B.
RUMUSAN MASALAH.............................................................................
3
C.
TUJUAN PEMBAHASAN..........................................................................
3
BAB 2
: PEMBAHASAN.................................................................................................
4
A.
STUDI KASUS : KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA........................ 4
B.
PROTES DARI NEGARA TETANGGA..................................................... 5
C.
PERAN ASEAN DI DALAM PENYELESAN MASALAH.......................... 6
BAB 3 : PENUTUP.......................................................................................................
7
A.
KESIMPULAN............................................................................................
7
B.
SARAN.......................................................................................................
7
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................
8
BAB
1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Asia Tenggara merupakan kawasan yang
memilki banyak hutan tropis. Secara Astronomis Asia Tenggara terletak antara
28OLU – 11OLS dan 95OBT – 141OBT. Batas-batas administratif Asia Tenggara
adalah sebagai berikut.
a. Sebelah utara berbatasan dengan daratan Cina
dan India
b.
Sebelah timur berbatasan dengan Samudra Pasifik dan
Papua Nugini
c.
Sebelah selatan berbatasan dengan Benua Australia
dan Samudra Hindia
d. Sebelah
barat berbatasan dengan Samudra Hindia, Laut Andaman, dan Teluk Benggala.
Asia
Tenggara letaknya di sebelah timur India dan di sebelah selatan Tiongkok
(Cina). Di kawasan ini membentang pegunungan-pegunungan yang bersambung-sambung
dari arah utara ke selatan sampai ke Indonesia. Lembah-lembah dan sungainya di
sebelah utara sempit tetapi makin ke selatan makin lebar dan datar dan dekat
pantai berubah menjadi dataran rendah. Lembah-lembah sungai itu antara lain:
Sungai Mekhong, Salween, dan Irawadi. Hawanya panas, banyak turun hujan,
mengakibatkan adanya rimba yang subur dan menghasilkan kayu, terutama di Muang
Thai (Thailand) dan Myanmar. Di kawasan pegunungan muda Mediterania dan Sirkum
Pasifik terdapat banyak gunung berapi yang masih aktif.
Wilayah
Asia Tenggara sebagian besar merupakan kepulauan. Pulau yang besar terdapat di
wilayah Filipina (Pulau Luzon dan Mindanau) dan Indonesia (Pulau Sumatera,
Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian jaya). Wilayah Asia Tenggara yang
terletak di daratan Asia adalah Thailand, Vietnam dan sebagian wilayah negara
Malaysia. Ujung dari daratan Asia adalah Semenanjung Malaka yang termasuk
wilayah negara Malaysia. Laut-laut yang termasuk wilayah Asia Tenggara di
antaranya Laut Cina Selatan, Laut Sulawesi, Laur Sulu, Laut Jawa, Laut Maluku,
Laut Arafuru, Laut Timor, Laut Banda,
Laut Flores, dan Laut Halmahera. Sungai
yang besar di antaranya Sungai Chao Phraya, Sungai Mekong di Thailand, dan sungai-sungai
di Indonesia (Arya, 2015).
Indonesia
merupakan negara paling luas di kawan Asia Tenggara. Pada tahun 2010 laporan
resmi dari Kementerian Kehutanan, Indonesia memiliki luas hutan sebanyak 133
juta ha. Hutan di Indonesia merupakan rumah bagi kekayaan hayati dunia yang
unik. Keanekaragaman hayati yang terkandu di hutan Indonesia meliputi 12 persen
spesies mamalia dunia, 7,3 persen species reptile dan amfibi, serta 17 persen
spesies burung dari seluruh dunia. Dan, diyakini bahwa masih banyak lagi
misteri yang tersembunyi didalamnya. Sebuah contoh nyata misalnya, data WWF
menunjukkan antara tahun 1994-2007 saja ditemukan lebih dari 400 spesies baru
dalam dunia sains di hutan Kalimatan. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai
salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Namun,
karena masih luasnya hutan di Indonesia membuat orang serta perusahan di
Indonesia mengganggap pembakaran hutan untuk membuka ruang untuk membuat sebuah
pabrik atau membuka ruang untuk ditinggali. Akhirnya, membuat suatu masalah
yang tidak kunjung berhenti dari dulu hingga sekarang. Masalah ini tidak hanya
merugikan Indonesia sendiri sebagai tuan rumah, tetapi juga hingga merugikan
negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Indonesia seperti Malaysia, dan
Singapura.
A.
Rumusan Masalah
1.
Dampak isu lingkungan terhadap negara-negara di Asia
Tenggara.
2.
Peran ASEAN dalam menyelesaikan masalah kabut asap.
3.
Penyelesaian masalah kabut asap.
B.
Tujuan Pembahasan
Tujuan
dari pembahasan materi ini adalah
1.
Mengetahui penyebab dari masalah kabut asap.
2.
Mengetahui dampak dari isu kabut asap.
3.
Mengetahui reaksi dari negara-negara ASEAN terhadap
isu lingkungan ini, khususnya masalah kabut asap.
4.
Mengetahui proses dari penyelesaian kabut asap.
BAB 2
PEMBAHASAN
A.
Studi Kasus
Indonesia
dan Kebakaran Hutan
Indonesia
sadar bahwasanya negaranya merupakan salah satu jantung oksigen dunia untuk
menanggulangi pemanasan global, beberapa kali Indonesia lengah dengan hutan
yang dimilikinya. Penyebab dari kebakaran hutan ini memiliki dua alasan, yaitu
oleh alam dan ulah manusia. Namun, alasan kenapa kebakaran banyak terjadi
adalah karena ulah manusia itu sendiri. Cara yang dilakukan untuk membuka ruang
di hutan atau membuat tanah yang kosong adalah membakar hutan tersebut. Selain
mudah dilakukan, hal ini juga sangat efektif dilakukan. Dilansir dari (Ahmad, 2015) Pada tahun Tahun 1982/1983,
kebakaran menghancurkan 3,2 juta hektar hutan dengan kerugian mencapai lebih
dari 6 trilyun rupiah. Kemudian pada tahun 1994/1995, hutan di Pulau Kalimantan
dan Sumatera dilahap oleh api dan ditaksir hampir 5 juta hektar terbakar. Kabut
asap juga dirasakan oleh Malaysia dan Singapura. Pada tahun inilah, pemerintah
melakukan proyek penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan negara tetangga.
Pada
tahun 1997-1998 indonesia mengalami kebakaran hutan yang paling parah di
seluruh dunia. Citra situasi kota yang diselimuti kabut, hutan yang terbakar
dan juga banyak foster orang huta terpampang di koran bagian depan dan juga
media elektronik. Ini merupakan kebakaran hutan yang paling terbesar sepanjang
sejarah, karna dampaknya bagi hutan dab jumlah emisi karbon yang dihasilkannya
sangat besar (Luca Tacconi, 2003), kebakaran hutan dan lahan yang melanda
hampir di semua wilayah Pulau Sumatera dan Kalimantan mengakibatkan adanya
degradasi hutan dan deforestasi. Pada tahun tersebut, kerugian ditaksir
mendekati nominal 2,7 miliar rupiah.
Kemudian
terjadi lagi pada tahun 2006/2007, kebakaran hutan dan lahan di awal dan tengah
tahun membuat perekonomian di beberapa wilayah terdampak menjadi lumpuh.
Sehingga aktivitas perekonomian menjadi terganggu pula. Bahkan hubungan
diplomatik dengan negara tetangga juga sempat terganggu. Dikira bencana ini
akan berakhir, tapi ternyata di tahun 2012/2013 terjadi lagi, kebakaran hutan
dan lahan di tahun tersebut memaksa pemerintah untuk meminta maaf kepada negara
tetangga. Hal ini diakibatkan kabut asap kiriman dari Indonesia menganggu
aktivitas negara tetangga kemudian berlanjut pada tahun 2014, kebakaran lahan
dan hutan yang terjadi di awal tahun mencatatkan kerugian sebesar Rp. 481,23
milyar. Selain itu, puluhan ribu warga terkena ISPA.
B.
Protes Dari Negara Tetangga
a.
Singapura
Bencana
kabut asap di Indonesia hampir terjadi setiap tahunnya dan Indonesia banyak
menerima stigma negative yang diluncurkan oleh negara-negara tetangga, baik itu
berbentuk sindiran, maupun cercaan langsung dari mereka. Salah satunya dari
Singapura yang dikutif dari wabside BBC Indonesia yang dibuat oleh salah
seorang netizan dari Singapura dalam
Sebuah situs yang bertajuk "Thank You Indonesia for 11 months of clean
air!" (Washarti, 2015). Situs ini
dibuat sebagai bentuk untuk berterima kasih kepada Tanah Air karena telah
menyumbang udara bersih sebelum tragedi kebakaran lahan/hutan dan kabut asap.
Kemudian
ada juga beberapa perbuatan Singapura yang dinilai sebagai suatu singgungan
yang sangat menyedihkan bagi Indonesia. yakni pemerintah Indonesia dituntut dan
didesak oleh Singapura untuk menangkap pelaku yang telah menyebabkan bencana
kabut asap ini. Hal ini karena mereka beranggapan bahwa bencana ini telah
menyebabkan ketergangguan dalam kehidupan sosial mereka. Baik itu dari segi
pergaulan, proses belajar mengajar dan
lain sebaginya.
b.
Malaysia
Dalam
Bencana kabut asap tahunan ini, pemerintah Malaysia merasakan hal yang sama
dengan Singpura. Dimana pemerintah Malaysia yang diwakili oleh duta besar
Malaysia Datuk Seri Zahrain Mohemed Hashim angkat bicara akan hal ini dan
terutama akan kerugian akibat dari bencana ini di negara mereka. Datuk Zahrain
menyebut banyak Negara Bagian di Malaysia yang tertutup kabut asap, sehingga
menyebabkan kegiatan masyarakat dan pemerintahan yang menjadi korban dari
bencana ini. Dan, menyebabkan kerugian yang besar baik bersifat material dan
immaterial.
C.
Peran ASEAN Dalam Penyelesaian Masalah Kabut Asap
ASEAN
sebagai organiasasi regional, di kawasan Asia Tenggara memiliki tanggung jawab
dengan menciptakan stabilitas keamanan, ekonomi, sosial, dan hubungan yang baik
abtar anggotonya yang dimulai sejak perama berdirinya. Seiring dengan
konstelasi internasional ASEAN mengalami perkembangan pesat. Pada awal berdirinya,
ASEAN menaruh perhatian yang besar untuk membangin rasa saling percaya, itikat
baik dan mengembangkan asas untuk bekerjasama secara terbuka antara
negara-negara anggotanya. Kini dengan segala kematangan dan pencapaian yang
telah diraih ASEAN, maka kerjasama-kerjasama yang dilakukan ASEAN mulai
menyentuh pada kerjasama-kerjasama yang sebelumnya dianggap sensiatif. Dan
sekarang pentingnya kerjasama di bidang lain dalam tubuh ASEAN, karena dipicu
oleh munculnya isu-isu dan pristiwa global seperti masalah lingkungan hidup,
meningkatnya situasi persaingan dan ketegangan antar negara-negara besar di
kawasan.
Salah
satu gebrakan yang dilakukan oleh ASEAN yakni dengan menciptakan kerjasama di
bidang lingkunhgan hidup sejak 1978 dan ditandai dengan dibentuknya ASEAN
Experts Group on the Environment (AEGE) di bawah Committee on Science and
Technology (COST). Pembentukan wadah tersebut dimaksudkan untuk memperkuat
kerjasama yang sudah dirintis sejak tahun 1971. Ketika itu, AEGE diberi mandat
untuk mempersiapkan ASEAN Environmental Programme (ASEP) yaitu program kegiatan
ASEAN di bidang lingkungan hidup.
Tahun
1981, diselenggarakan ASEAN Ministerial Meeting on The Environment (AMME),
yaitu sebuah pertemuan setingkat menteri yang membahasa tentang isu lingkungan,
di Manilam Filiphina. Pertemuan ini menghasilkan deklarasi Manila (Manila
Declaration) yang berisikan tentang, himbauan tentang pentingnya kesadaran
semua petinggi negara-negara di kawasan Asia Tenggara tentang isu lingkungan
serta menjaga kesabilitasan dari kekayaan alam yang menjadi warisan yang
diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan menjaga alam, maka itu bisa
menyeimbangkan kualitas hidup yang tinggi untuk seluruh masyarakat yang ada di
kawasan Asia Tenggara. Selain, menghasilkan deklarasi Manila, pertemuan
tersebut juga menghasilkan pertemuan informal setiap 3 tahun. Pada pertemuan
rutin ke-10, tepatnya pada 2006 di Cebu Filiphina. Para Menteri di kawasan Asia
Tenggara mengeluarkan “Cebu Resolution on Sustainable Development”, kembali
menegaskan tentang komitmennya yang dialamatkan kepada isu lingkungan terhadap
negara, regional, dan kerjasama global. Mereka juga meresmikan, laporan
mengenai isu lingkungan.
Selain,
melakukan pertemuan rutin ASEAN juga membuat sebuah kerjasama nyata yaitu.
ASEAN Senior Officials on the Environment (ASOEN) menjalankan program ASEAN
HAZE ACTION yang dijalankan oleh ASEAN Haze Technical Task Force (Glover, 1999). Rencana ini memiliki tiga
program yaitu, pencegahan, pemantauan serta pemadaman. Semua ini dilakukan oleh
tiga negara yaitu, Malaysia, Singapura dan Indonesia. Malaysia mengirimkan
bantuan kepada Indonesia untuk melakukan pencegahan. Singapura melakukan
pemantauan dari radarnya, karena Singapura memiliki teknologi yang canggih.
Setelah itu semuanya bersinergi untuk membantu Indonesia menangani kabut asap
ini.
BAB 3
PENUTUP
A.
Kesimpulan.
Isu
lingkungan merupakan suatu itu yang bukan lagi hanya menjadi masalah dalam
negeri tetapi sudah menjadi masalah internasional. Dan, tentu untuk mengatasi
masalah ini yang berkerja tidak hanya negara yang menjadi tempat masalah
lingkungan itu terjadi, tetapi semua negara yang terkena dampaknya. Sebagai
contoh nyata, kasus kabut asap yang terjadi di Indonesia, khususnya yang
terjadi di Kalimatan dan Sumatera. Dalam hal ini, Indonesia bersinergi dengan
Malaysia dan Singapura untuk mengatasi kebakaran hutan sehingga menyebabkan
kabut asap yang berdampak ke negara-negara tersebut. ASEAN dalam kasus ini
telah mengambil peran yang penting dengan cara mengumpulkan anggotanya setiap
beberapa tahun hanya untuk membicarakan isu lingkungan serta cara untuk
mengatasinya.
Dan,
telah memberikan tugas yang masing-masing kepada negara-negara tersebut untuk
mengatasi asap kabut di Kalimantan dan Sumatera. Yaitu, Malaysia harus
memberikan bantuan dalam mencegah kebakaran hutan, Singapura harus melakukan
pengawasan dengan teknologinya yang sudah memumpuni dan langsung melaporkannya
ke Indonesia. Dan, tentunya Indonesia sebagai negara yang menjadi pusat
kebakaran hutan harus melakukan kerja yang lebih untuk mengatasi kasus kabut
asap ini.
B.
Saran
Melihat
banyaknya fenomena lingkungan yang terjadi di kawasan Asia Tenggara dan
beberapa fenomena itu belum dapat diselesaikan oleh ASEAN, maka penulis
menyarankan organisasi ini untuk memperjelas pergerakan dari organisasi ini
supaya pada akhirnya organisasi ini dapat bergarak sepenuhnya dalam
menanggulangi bencana-bencana di kawasan Asia Tenggara ini. karena bermula
dengan kejelasan dari organisasi inilah pada akhirnya dapat memberikan
pergerakan yang baik kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Arya, I. (2015, Oktober
5). Iklim, Bentang Alam dan Letak Geografis Asia Tenggara. Retrieved
Oktober 23, 2016, from Dunia Pendidikan:
www.duniapendidikan.net/2015/10/5/iklim-bentang-alam-dan-letak-geografis-Asia-Tenggara.html
Glover, D. (1999). Indonesia’s
Fire and Haze: The Cost of Catastrophere. Singapore: Institute of Southeast
Asia Studies.
Washarti, R. (2015,
September 28). Singapura marah karena asap, RI tak beri kompensasi.
Retrieved Oktober 23, 2016, from BCC INDONESIA:
www.bbc.com/Indonesia/berita_indonesia/2015/09/150927_Indonesia_asap_singapura.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar