Rabu, 26 Oktober 2016

ASEAN AND ENVIRONMENTAL ISSUESS


DAFTAR ISI


          DAFTAR ISI.................................................................................................................... 1
          BAB 1 : PENDAHULUAN.............................................................................................. 2      
A.     LATAR BELAKANG MASALAH.............................................................. 2      
B.     RUMUSAN MASALAH............................................................................. 3
C.     TUJUAN PEMBAHASAN.......................................................................... 3      
          BAB 2 : PEMBAHASAN................................................................................................. 4      
A.     STUDI KASUS : KEBAKARAN HUTAN DI INDONESIA........................ 4      
B.     PROTES DARI NEGARA TETANGGA..................................................... 5
C.     PERAN ASEAN DI DALAM PENYELESAN MASALAH.......................... 6      
BAB 3 : PENUTUP....................................................................................................... 7
A.     KESIMPULAN............................................................................................ 7
B.     SARAN....................................................................................................... 7      
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 8



BAB 1
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
            Asia Tenggara merupakan kawasan yang memilki banyak hutan tropis. Secara Astronomis Asia Tenggara terletak antara 28OLU – 11OLS dan 95OBT – 141OBT. Batas-batas administratif Asia Tenggara adalah sebagai berikut.
a.        Sebelah utara berbatasan dengan daratan Cina dan India
b.      Sebelah timur berbatasan dengan Samudra Pasifik dan Papua Nugini
c.       Sebelah selatan berbatasan dengan Benua Australia dan Samudra Hindia
d.      Sebelah barat berbatasan dengan Samudra Hindia, Laut Andaman, dan Teluk Benggala.
Asia Tenggara letaknya di sebelah timur India dan di sebelah selatan Tiongkok (Cina). Di kawasan ini membentang pegunungan-pegunungan yang bersambung-sambung dari arah utara ke selatan sampai ke Indonesia. Lembah-lembah dan sungainya di sebelah utara sempit tetapi makin ke selatan makin lebar dan datar dan dekat pantai berubah menjadi dataran rendah. Lembah-lembah sungai itu antara lain: Sungai Mekhong, Salween, dan Irawadi. Hawanya panas, banyak turun hujan, mengakibatkan adanya rimba yang subur dan menghasilkan kayu, terutama di Muang Thai (Thailand) dan Myanmar. Di kawasan pegunungan muda Mediterania dan Sirkum Pasifik terdapat banyak gunung berapi yang masih aktif.
Wilayah Asia Tenggara sebagian besar merupakan kepulauan. Pulau yang besar terdapat di wilayah Filipina (Pulau Luzon dan Mindanau) dan Indonesia (Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian jaya). Wilayah Asia Tenggara yang terletak di daratan Asia adalah Thailand, Vietnam dan sebagian wilayah negara Malaysia. Ujung dari daratan Asia adalah Semenanjung Malaka yang termasuk wilayah negara Malaysia. Laut-laut yang termasuk wilayah Asia Tenggara di antaranya Laut Cina Selatan, Laut Sulawesi, Laur Sulu, Laut Jawa, Laut Maluku, Laut Arafuru, Laut Timor, Laut  Banda, Laut  Flores, dan Laut Halmahera. Sungai yang besar di antaranya Sungai Chao Phraya, Sungai Mekong di Thailand, dan sungai-sungai di Indonesia (Arya, 2015). 






Indonesia merupakan negara paling luas di kawan Asia Tenggara. Pada tahun 2010 laporan resmi dari Kementerian Kehutanan, Indonesia memiliki luas hutan sebanyak 133 juta ha. Hutan di Indonesia merupakan rumah bagi kekayaan hayati dunia yang unik. Keanekaragaman hayati yang terkandu di hutan Indonesia meliputi 12 persen spesies mamalia dunia, 7,3 persen species reptile dan amfibi, serta 17 persen spesies burung dari seluruh dunia. Dan, diyakini bahwa masih banyak lagi misteri yang tersembunyi didalamnya. Sebuah contoh nyata misalnya, data WWF menunjukkan antara tahun 1994-2007 saja ditemukan lebih dari 400 spesies baru dalam dunia sains di hutan Kalimatan. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Namun, karena masih luasnya hutan di Indonesia membuat orang serta perusahan di Indonesia mengganggap pembakaran hutan untuk membuka ruang untuk membuat sebuah pabrik atau membuka ruang untuk ditinggali. Akhirnya, membuat suatu masalah yang tidak kunjung berhenti dari dulu hingga sekarang. Masalah ini tidak hanya merugikan Indonesia sendiri sebagai tuan rumah, tetapi juga hingga merugikan negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Indonesia seperti Malaysia, dan Singapura.

A.     Rumusan Masalah
1.      Dampak isu lingkungan terhadap negara-negara di Asia Tenggara.
2.      Peran ASEAN dalam menyelesaikan masalah kabut asap.
3.      Penyelesaian masalah kabut asap.

B.     Tujuan Pembahasan
Tujuan dari pembahasan materi ini adalah
1.      Mengetahui penyebab dari masalah kabut asap.
2.      Mengetahui dampak dari isu kabut asap.
3.      Mengetahui reaksi dari negara-negara ASEAN terhadap isu lingkungan ini, khususnya masalah kabut asap.
4.      Mengetahui proses dari penyelesaian kabut asap.



BAB 2
PEMBAHASAN
A.     Studi Kasus
Indonesia dan Kebakaran Hutan
Indonesia sadar bahwasanya negaranya merupakan salah satu jantung oksigen dunia untuk menanggulangi pemanasan global, beberapa kali Indonesia lengah dengan hutan yang dimilikinya. Penyebab dari kebakaran hutan ini memiliki dua alasan, yaitu oleh alam dan ulah manusia. Namun, alasan kenapa kebakaran banyak terjadi adalah karena ulah manusia itu sendiri. Cara yang dilakukan untuk membuka ruang di hutan atau membuat tanah yang kosong adalah membakar hutan tersebut. Selain mudah dilakukan, hal ini juga sangat efektif dilakukan. Dilansir dari (Ahmad, 2015) Pada tahun Tahun 1982/1983, kebakaran menghancurkan 3,2 juta hektar hutan dengan kerugian mencapai lebih dari 6 trilyun rupiah. Kemudian pada tahun 1994/1995, hutan di Pulau Kalimantan dan Sumatera dilahap oleh api dan ditaksir hampir 5 juta hektar terbakar. Kabut asap juga dirasakan oleh Malaysia dan Singapura. Pada tahun inilah, pemerintah melakukan proyek penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan negara tetangga.
Pada tahun 1997-1998 indonesia mengalami kebakaran hutan yang paling parah di seluruh dunia. Citra situasi kota yang diselimuti kabut, hutan yang terbakar dan juga banyak foster orang huta terpampang di koran bagian depan dan juga media elektronik. Ini merupakan kebakaran hutan yang paling terbesar sepanjang sejarah, karna dampaknya bagi hutan dab jumlah emisi karbon yang dihasilkannya sangat besar (Luca Tacconi, 2003), kebakaran hutan dan lahan yang melanda hampir di semua wilayah Pulau Sumatera dan Kalimantan mengakibatkan adanya degradasi hutan dan deforestasi. Pada tahun tersebut, kerugian ditaksir mendekati nominal 2,7 miliar rupiah.
Kemudian terjadi lagi pada tahun 2006/2007, kebakaran hutan dan lahan di awal dan tengah tahun membuat perekonomian di beberapa wilayah terdampak menjadi lumpuh. Sehingga aktivitas perekonomian menjadi terganggu pula. Bahkan hubungan diplomatik dengan negara tetangga juga sempat terganggu. Dikira bencana ini akan berakhir, tapi ternyata di tahun 2012/2013 terjadi lagi, kebakaran hutan dan lahan di tahun tersebut memaksa pemerintah untuk meminta maaf kepada negara tetangga. Hal ini diakibatkan kabut asap kiriman dari Indonesia menganggu aktivitas negara tetangga kemudian berlanjut pada tahun 2014, kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di awal tahun mencatatkan kerugian sebesar Rp. 481,23 milyar. Selain itu, puluhan ribu warga terkena ISPA.




B.     Protes Dari Negara Tetangga
a.       Singapura
Bencana kabut asap di Indonesia hampir terjadi setiap tahunnya dan Indonesia banyak menerima stigma negative yang diluncurkan oleh negara-negara tetangga, baik itu berbentuk sindiran, maupun cercaan langsung dari mereka. Salah satunya dari Singapura yang dikutif dari wabside BBC Indonesia yang dibuat oleh salah seorang netizan dari Singapura  dalam Sebuah situs yang bertajuk "Thank You Indonesia for 11 months of clean air!" (Washarti, 2015). Situs ini dibuat sebagai bentuk untuk berterima kasih kepada Tanah Air karena telah menyumbang udara bersih sebelum tragedi kebakaran lahan/hutan dan kabut asap.
Kemudian ada juga beberapa perbuatan Singapura yang dinilai sebagai suatu singgungan yang sangat menyedihkan bagi Indonesia. yakni pemerintah Indonesia dituntut dan didesak oleh Singapura untuk menangkap pelaku yang telah menyebabkan bencana kabut asap ini. Hal ini karena mereka beranggapan bahwa bencana ini telah menyebabkan ketergangguan dalam kehidupan sosial mereka. Baik itu dari segi pergaulan, proses belajar mengajar  dan lain sebaginya.
b.      Malaysia
Dalam Bencana kabut asap tahunan ini, pemerintah Malaysia merasakan hal yang sama dengan Singpura. Dimana pemerintah Malaysia yang diwakili oleh duta besar Malaysia Datuk Seri Zahrain Mohemed Hashim angkat bicara akan hal ini dan terutama akan kerugian akibat dari bencana ini di negara mereka. Datuk Zahrain menyebut banyak Negara Bagian di Malaysia yang tertutup kabut asap, sehingga menyebabkan kegiatan masyarakat dan pemerintahan yang menjadi korban dari bencana ini. Dan, menyebabkan kerugian yang besar baik bersifat material dan immaterial.

C.                  Peran ASEAN Dalam Penyelesaian Masalah Kabut Asap
ASEAN sebagai organiasasi regional, di kawasan Asia Tenggara memiliki tanggung jawab dengan menciptakan stabilitas keamanan, ekonomi, sosial, dan hubungan yang baik abtar anggotonya yang dimulai sejak perama berdirinya. Seiring dengan konstelasi internasional ASEAN mengalami perkembangan pesat. Pada awal berdirinya, ASEAN menaruh perhatian yang besar untuk membangin rasa saling percaya, itikat baik dan mengembangkan asas untuk bekerjasama secara terbuka antara negara-negara anggotanya. Kini dengan segala kematangan dan pencapaian yang telah diraih ASEAN, maka kerjasama-kerjasama yang dilakukan ASEAN mulai menyentuh pada kerjasama-kerjasama yang sebelumnya dianggap sensiatif. Dan sekarang pentingnya kerjasama di bidang lain dalam tubuh ASEAN, karena dipicu oleh munculnya isu-isu dan pristiwa global seperti masalah lingkungan hidup, meningkatnya situasi persaingan dan ketegangan antar negara-negara besar di kawasan.
Salah satu gebrakan yang dilakukan oleh ASEAN yakni dengan menciptakan kerjasama di bidang lingkunhgan hidup sejak 1978 dan ditandai dengan dibentuknya ASEAN Experts Group on the Environment (AEGE) di bawah Committee on Science and Technology (COST). Pembentukan wadah tersebut dimaksudkan untuk memperkuat kerjasama yang sudah dirintis sejak tahun 1971. Ketika itu, AEGE diberi mandat untuk mempersiapkan ASEAN Environmental Programme (ASEP) yaitu program kegiatan ASEAN di bidang lingkungan hidup.
Tahun 1981, diselenggarakan ASEAN Ministerial Meeting on The Environment (AMME), yaitu sebuah pertemuan setingkat menteri yang membahasa tentang isu lingkungan, di Manilam Filiphina. Pertemuan ini menghasilkan deklarasi Manila (Manila Declaration) yang berisikan tentang, himbauan tentang pentingnya kesadaran semua petinggi negara-negara di kawasan Asia Tenggara tentang isu lingkungan serta menjaga kesabilitasan dari kekayaan alam yang menjadi warisan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan menjaga alam, maka itu bisa menyeimbangkan kualitas hidup yang tinggi untuk seluruh masyarakat yang ada di kawasan Asia Tenggara. Selain, menghasilkan deklarasi Manila, pertemuan tersebut juga menghasilkan pertemuan informal setiap 3 tahun. Pada pertemuan rutin ke-10, tepatnya pada 2006 di Cebu Filiphina. Para Menteri di kawasan Asia Tenggara mengeluarkan “Cebu Resolution on Sustainable Development”, kembali menegaskan tentang komitmennya yang dialamatkan kepada isu lingkungan terhadap negara, regional, dan kerjasama global. Mereka juga meresmikan, laporan mengenai isu lingkungan.
Selain, melakukan pertemuan rutin ASEAN juga membuat sebuah kerjasama nyata yaitu. ASEAN Senior Officials on the Environment (ASOEN) menjalankan program ASEAN HAZE ACTION yang dijalankan oleh ASEAN Haze Technical Task Force (Glover, 1999). Rencana ini memiliki tiga program yaitu, pencegahan, pemantauan serta pemadaman. Semua ini dilakukan oleh tiga negara yaitu, Malaysia, Singapura dan Indonesia. Malaysia mengirimkan bantuan kepada Indonesia untuk melakukan pencegahan. Singapura melakukan pemantauan dari radarnya, karena Singapura memiliki teknologi yang canggih. Setelah itu semuanya bersinergi untuk membantu Indonesia menangani kabut asap ini.


BAB 3
PENUTUP

A.     Kesimpulan.
            Isu lingkungan merupakan suatu itu yang bukan lagi hanya menjadi masalah dalam negeri tetapi sudah menjadi masalah internasional. Dan, tentu untuk mengatasi masalah ini yang berkerja tidak hanya negara yang menjadi tempat masalah lingkungan itu terjadi, tetapi semua negara yang terkena dampaknya. Sebagai contoh nyata, kasus kabut asap yang terjadi di Indonesia, khususnya yang terjadi di Kalimatan dan Sumatera. Dalam hal ini, Indonesia bersinergi dengan Malaysia dan Singapura untuk mengatasi kebakaran hutan sehingga menyebabkan kabut asap yang berdampak ke negara-negara tersebut. ASEAN dalam kasus ini telah mengambil peran yang penting dengan cara mengumpulkan anggotanya setiap beberapa tahun hanya untuk membicarakan isu lingkungan serta cara untuk mengatasinya.
            Dan, telah memberikan tugas yang masing-masing kepada negara-negara tersebut untuk mengatasi asap kabut di Kalimantan dan Sumatera. Yaitu, Malaysia harus memberikan bantuan dalam mencegah kebakaran hutan, Singapura harus melakukan pengawasan dengan teknologinya yang sudah memumpuni dan langsung melaporkannya ke Indonesia. Dan, tentunya Indonesia sebagai negara yang menjadi pusat kebakaran hutan harus melakukan kerja yang lebih untuk mengatasi kasus kabut asap ini.

B.  Saran
            Melihat banyaknya fenomena lingkungan yang terjadi di kawasan Asia Tenggara dan beberapa fenomena itu belum dapat diselesaikan oleh ASEAN, maka penulis menyarankan organisasi ini untuk memperjelas pergerakan dari organisasi ini supaya pada akhirnya organisasi ini dapat bergarak sepenuhnya dalam menanggulangi bencana-bencana di kawasan Asia Tenggara ini. karena bermula dengan kejelasan dari organisasi inilah pada akhirnya dapat memberikan pergerakan yang baik kedepannya.







DAFTAR PUSTAKA

Arya, I. (2015, Oktober 5). Iklim, Bentang Alam dan Letak Geografis Asia Tenggara. Retrieved Oktober 23, 2016, from Dunia Pendidikan: www.duniapendidikan.net/2015/10/5/iklim-bentang-alam-dan-letak-geografis-Asia-Tenggara.html
Glover, D. (1999). Indonesia’s Fire and Haze: The Cost of Catastrophere. Singapore: Institute of Southeast Asia Studies.
Washarti, R. (2015, September 28). Singapura marah karena asap, RI tak beri kompensasi. Retrieved Oktober 23, 2016, from BCC INDONESIA: www.bbc.com/Indonesia/berita_indonesia/2015/09/150927_Indonesia_asap_singapura.html




Tidak ada komentar:

Posting Komentar